Menjadi Hits dengan Bersepeda ditengah Pandemi
Beberapa minggu terakhir ini ada sebuah gaya hidup baru yang tengah digandrungi dan dilakukan oleh masyarakat Indonesia, tidak mengenal usia, jenis kelamin hingga status sosial. Sebuah gaya hidup baru yang tengah hits dan diikuti oleh banyak orang, tanpa merasa takut lagi untuk pergi keluar rumah.
Bersepeda.
Sebuah aktivitas olahraga sekaligus ajang unjuk diri untuk menaikan kelas sosial, jika memiliki suatu jenis sepeda yang tengah naik daun. Tanpa perlu disebutkan, banyak dari kalian pasti sudah mengetahui merek sepeda ini.
Tidak ada yang salah dengan bersepeda sebagai sarana olahraga dan transportasi, sungguh, hal tersebut justru membuat negara ini lebih bisa mengurangi polusi udara dan menjaga lingkungan agar tetap lestari.
Fenomena Ini Tidak Hanya Sekali Terjadi
Fenomena banyaknya masyarakat menggunakan sepeda ini mengingatkan Penulis pada fenomena sepeda Fixie sekitar tahun 2010an, dimana banyak kalangan menggunakan sepeda ini dan membuat harga sepeda ini pada saat itu naik.
Jalanan kota Jakarta pada masa itu dipenuhi oleh sepeda dengan beragam warna, terlebih di alun-alun kota seperti kawasan Monas, Bundaran HI hingga Senayan yang dipenuhi oleh sepeda-sepeda untuk berolahraga di hari Sabtu atau Minggu. Anak-anak, remaja dan orang dewasa turut menghiasi jalanan Jakarta dengan warna-warni sepeda mereka dengan berkelompok ataupun individual.
Namun sayangnya, kegiatan bersepeda ini makin lama makin berkurang dan perlahan menghilang yang hanya menyisakan beberapa komunitas aktif saja yang menggunakannya. Warga yang lain pun kembali menggunakan sepeda motor untuk alat transportasi dan memilih olahraga lain.
Dan fenomena ini pun terulang kembali, dimana pada tahun ini banyak dari masyarakat memilih menggunakan sepeda sebagai sarana fasilitas olahraga mereka. Walau ditengah Pandemi, tidak menghilangkan keinginan mereka untuk melakukan kegiatan gowes.
Fenomena yang membuat harga sepeda naik
Bukan warga +62 namanya jika tidak memanfaatkan sebuah hal kekinian dan membuatnya menjadi cuan, saat ini banyak warga berlomba membeli sepeda dengan kualitas mahal dan membuat kenaikan diikuti oleh toko lainnya.
Seperti hukum dimana jika sebuah barang dengan banyak peminat, harga yang ditawarpun juka ikut naik dengan sendirinya.
Sampai sampai di negara bagian Eropa merasa aneh dengan banyaknya konsumen dari Indonesia yang membeli sepeda dengan harga yang fantastis, seperti yang dicuitkan oleh akun Twitter @kismin666oys (https://twitter.com/kismin666oys/status/1287327045186277378?s=20) :
3. Tidak makan di tempat umum, dan membawa air minum pribadi.
Banyak diantara kita ketika melakukan kegiatan olahraga pasti menyempatkan untuk menyantap makanan yang berada disekitar, namun hal ini harus kita hindari karena perpindahan virus dapat berlangsung di peralatan makan yang disediakan oleh pedagang/rumah makan yang kita kunjungi, selain menjadikan perpindahan virus pembelian makanan/minuman dapat menambah sampah yang sudah menumpuk di Jakarta ini.
Hal tersebut dapat dicegah jika kita membawa air minum pribadi dan menghindari makan di luar.
Bersepeda.
Sebuah aktivitas olahraga sekaligus ajang unjuk diri untuk menaikan kelas sosial, jika memiliki suatu jenis sepeda yang tengah naik daun. Tanpa perlu disebutkan, banyak dari kalian pasti sudah mengetahui merek sepeda ini.
Tidak ada yang salah dengan bersepeda sebagai sarana olahraga dan transportasi, sungguh, hal tersebut justru membuat negara ini lebih bisa mengurangi polusi udara dan menjaga lingkungan agar tetap lestari.
Fenomena Ini Tidak Hanya Sekali Terjadi
Fenomena banyaknya masyarakat menggunakan sepeda ini mengingatkan Penulis pada fenomena sepeda Fixie sekitar tahun 2010an, dimana banyak kalangan menggunakan sepeda ini dan membuat harga sepeda ini pada saat itu naik.
Jalanan kota Jakarta pada masa itu dipenuhi oleh sepeda dengan beragam warna, terlebih di alun-alun kota seperti kawasan Monas, Bundaran HI hingga Senayan yang dipenuhi oleh sepeda-sepeda untuk berolahraga di hari Sabtu atau Minggu. Anak-anak, remaja dan orang dewasa turut menghiasi jalanan Jakarta dengan warna-warni sepeda mereka dengan berkelompok ataupun individual.
Namun sayangnya, kegiatan bersepeda ini makin lama makin berkurang dan perlahan menghilang yang hanya menyisakan beberapa komunitas aktif saja yang menggunakannya. Warga yang lain pun kembali menggunakan sepeda motor untuk alat transportasi dan memilih olahraga lain.
Dan fenomena ini pun terulang kembali, dimana pada tahun ini banyak dari masyarakat memilih menggunakan sepeda sebagai sarana fasilitas olahraga mereka. Walau ditengah Pandemi, tidak menghilangkan keinginan mereka untuk melakukan kegiatan gowes.
Fenomena yang membuat harga sepeda naik
Bukan warga +62 namanya jika tidak memanfaatkan sebuah hal kekinian dan membuatnya menjadi cuan, saat ini banyak warga berlomba membeli sepeda dengan kualitas mahal dan membuat kenaikan diikuti oleh toko lainnya.
Seperti hukum dimana jika sebuah barang dengan banyak peminat, harga yang ditawarpun juka ikut naik dengan sendirinya.
Sampai sampai di negara bagian Eropa merasa aneh dengan banyaknya konsumen dari Indonesia yang membeli sepeda dengan harga yang fantastis, seperti yang dicuitkan oleh akun Twitter @kismin666oys (https://twitter.com/kismin666oys/status/1287327045186277378?s=20) :
Wajar saja jika banyak orang memilih untuk membeli sebuah barang kesukaan mereka dengan kualitas terbaik, hal tersebut menjadi sebuah kepuasan tersendiri bagi pemiliknya dan menjadikannya sebagai kepercayaan diri ketika mengendarainya.
Namun hal ini dapat membuat harga sepeda justru makin melambung dan membuatnya menjadi barang 'mahal' seperti fenomena masker diawal pandemi ini berlangsung.
Sepeda dan tingkat polusi bertambah
Walau tingkat pesepeda bertambah banyak sekarang, hal tersebut tidak membuat polusi udara berkurang dalam beberapa bulan terakhir.
Dapat dilihat dari awan yang kembali menjadi abu-abu, karena beberapa karyawan yang diharuskan masuk kantor.
Tidak seperti pada bulan April-Juni,t dimana bisa terlihat tingkat polusi Jakarta pernah baik baik saja, karena pada saat itu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan aturan Karantina Mandiri dan Social Distancing yang membuat langit Jakarta terlihat indah dan minim polusi.
Dapat dilihat dari awan yang kembali menjadi abu-abu, karena beberapa karyawan yang diharuskan masuk kantor.
Tidak seperti pada bulan April-Juni,t dimana bisa terlihat tingkat polusi Jakarta pernah baik baik saja, karena pada saat itu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan aturan Karantina Mandiri dan Social Distancing yang membuat langit Jakarta terlihat indah dan minim polusi.
Tetap sehat walau ditengah pandemi
Memang tidak ada salahnya untuk melakukan kegiatan bersepeda, namun apakah ketika negeri ini sedang mengalami sebuah pandemi yang makin naik jumlah pasiennya bisa menjadikan hal tersebut sebuah aktivitas biasa? dan melakukannya secara kelompok besar?
Tidak. Saya tidak akan menjawabnya, kalianlah yang harusnya menjawab.
Beberapa protokol sudah ditetapkan untuk mencegah penyebaran virus ini, dan patutnya kita mematuhinya (walau sejujurnya saya pun mulai lelah, tapi saya tetap harus melakukannya demi membantu mengurangi virus ini). Dan beberapa protokol yang sudah ditetapkan oleh pemerintah adalah:
1. Menggunakan masker.
Apalah menggunakan masker dianjurkan ketika bersepeda?
Menurut ahli kesehatan; jika ketika kita bersepeda dan tidak ada orang dengan jarak kurang dari 4 meter, baiknya kita tidak menggunakan masker. Namun jika kita berada di sebuah kerumunan, pastikan jarak kalian dengan pesepeda lainnya berjarak lebih dari 4 meter untuk mencegah penyebaran virus ini.
2. Tidak berada di sebuah kerumunan orang.
Jika ingin melakukan kegiatan bersepeda di luar ruangan, pastikan kalian tidak berada di dalam sebuah kerumunan orang banyak. Hal tersebut justru bisa memicu pertumbuhan virus, jika salah satu diantara orang dalam kerumunan tersebut adalah Orang Tanpa Gejala.
Jadi pastikan diri kalian selalu aman dan terhindar dari kerumunan orang banyak.
Banyak diantara kita ketika melakukan kegiatan olahraga pasti menyempatkan untuk menyantap makanan yang berada disekitar, namun hal ini harus kita hindari karena perpindahan virus dapat berlangsung di peralatan makan yang disediakan oleh pedagang/rumah makan yang kita kunjungi, selain menjadikan perpindahan virus pembelian makanan/minuman dapat menambah sampah yang sudah menumpuk di Jakarta ini.
Hal tersebut dapat dicegah jika kita membawa air minum pribadi dan menghindari makan di luar.
4. Cuci tangan setelah melakukan kegiatan berolahraga.
Tidak lelahnya Pemerintah memberitahukan hal ini, cuci tangan. Yap, karena perpindahan virus tersebut banyak terdapat dalam telapak tangan yang telah menyentuh banyak hal di luar yang tidak diketahui bakteri apa saja yang berada didalamnya.
Selepas olahraga, ada baiknya kita untuk mencuci tangan kita untuk terhindar dari virus.
5. Jika sampai rumah, segera mandi dan cuci pakaian yang sudah dipakai.
Jika sudah sampai di rumah, jangan lupa untuk membersihkan diri kita dari polusi yang berada di luar rumah dan mencuci pakaian yang telah kita gunakan sebelumnya.
Namun ada baiknya jika kita tidak menjadi seseorang yang menyebarkan virus ini dengan berkelompok dan pergi kemana pun yang di mau. Dan dengan membeli sepeda dengan harga yang fantastik harus sepadan dengan pemasukan bulanan yang kita miliki, jangan sampai dengan membeli sepeda karena ingin menaikan kelas sosial membuat kita justru jatuh dan tidak memiliki simpanan lainnya.
Tetap sehat dan tetap menjaga protokol kesehatan, bersatu kita bisa mengurangi kenaikan COVID-19 ini.
Tertanda,
Penulis.

Komentar
Posting Komentar